Ricky Yacob atau Ricky Yacobi? Ini Cerita di Balik Nama si Legenda

Posted on

 

Ricky Yacob terlahir di Medan, Sumatera Utara, pada 12 Maret 1963. Sesudahnya, dia dikenal juga bernama Ricky Yacobi. Ini ceritanya.
Perombakan nama itu dipercayai berlangsung sesudah dia pulang dari Jepang. Pada pengujung 1980-an, Ricky sempat diambil Matsushita FC (cikal akan Gamba Osaka) yang bermain di persaingan sepakbola semiamatir Japan Soccer League.

Seringkali Ricky sempat menerangkan hal perombakan namanya itu. Salah satunya faktanya ialah rutinitas orang Jepang yang kesusahan melafalkan kata dengan akhiran huruf konsonan/mati hingga menambahnya huruf vokal.

Orang Jepang begitu susah panggil ‘Yacob’ dan mengubahnya dengan menambah ‘i’ jadi ‘Yacobi’

Hal tersebut jadi rutinitas dan dibawa Ricky saat telah kembali ke Indonesia.

Masalah claim itu termasuk logis sebab lidah orang Jepang benar-benar termasuk unik saat mereka menyampaikan kalimat asing. Malaysia misalkan yang beralih menjadi Mareshia atau Vietnam jadi Betonam.

Ricky lebih suka memakai Yacobi daripada Yacob. Hal tersebut dapat disaksikan dalam pemakaian username di account Instagram dan Facebook kepunyaannya. Juga bernama sekolah sepakbola yang dia miliki.

Ada claim perombakan nama itu berkaitan rutinitas religius keagamaan yang ditempuh Ricky

Situs Historia dan reporter senior Mahfudin Nigara pernah mengulas ini.

Ibasnya, Ricky dicoret dari tim Tim nasional Indonesia di SEA Games 1991. Mengakibatkan, Ricky tidak terjebak dalam kesuksesan Tim nasional Indonesia meraih medali emas SEA Games untuk yang ke-2 kalinya.

Awalnya, Ricky telah pernah menyembahkan medali emas sepakbola di SEA Games 1987. Manager Tim nasional Indonesia IGK Manila mau tak mau mencoret Ricky pada gelaran 1991 di Jakarta sebab memandang si penyerang berbeda sikap sesudah jalani aktivitas religius.

Pencorengan Ricky membuat khalayak waktu itu bertanya. Mahfum,

Ricky adalah penyerang terbaik yang dipunyai Indonesia waktu itu

IGK Manila masih oke mencoret Ricky sebab mencium suatu hal yang tidak biasa dari tingkah bekas PSMS Medan. Misalkan waktu Ricky menyengaja buang kesempatan cetak gol melawan Malta dalam gelaran President’s Cup di Korea Selatan, tahun 1991.

“Saya ketahui Ricky pemain bagus, tetapi saya punyai alasan. Konsentrasi saya saat ini kesatuan team. Sasaran kita emas. Cuman pemain yang siap berlaga yang berada di team,” papar IGK Manila dalam biografinya, Panglima Gajah, Manager Juara, kreasi Hardy Hermawan dan Edy Budiyarso, yang termuat di situs Historia.

Mahfudin Nigara menceritakan hal sama mengenai Ricky Yacobi dalam tulisan terbaru

Dia ialah sosok reporter yang banyak terjebak dalam peliputan olahraga nasional pada periode itu.

Nigara akui pernah diminta tolong oleh IGK Manila berkaitan perombakan sikap Ricky. Waktu itu, IGK Manila menyebutkan Ricky tutup diri.

“Ricky pun tidak pernah menceritakan mengenai nama mengapa berbeda mendadak dari Yacob jadi Yacobi. Tetapi, ia itu Ricky bin Yacob, namanya hanya satu Ricky saja, bapaknya Yacob. Selanjutnya sepulangnya dari Jepang ia perdalam agama Islam, cukup keras tuntunannya saat itu sesudah dibawa oleh teman dekatnya yang penjaga gawang, bukan pemain tim nasional. Selanjutnya belajar, waktu belajar, ini tafsir saya, ia dibai’at selanjutnya bisa nama baru. Ia menggenggam falsafah itu, lebih baik diam dibanding tidak dapat berbicara dengan benar dan baik. Itu yang membuat ia lama tidak berbicara dengan siapa saja,” papar Nigara ke detikSport.

“Yang pasti, Ricky terus geram jika diundang Yacob. ‘Bang nama saya Yacobi bang bukan Yacob.’ Berulang-kali ia ngomong itu penggantian nama itu,” tambahnya.

“Jika faktanya sebab di Jepang, cocok pulang kan telah kembali lagi jadi Yacob, ini kan tidak. Ia berguru sama orang yang paling keras hingga dibai’at dan harus tukar nama.”

Nigara pastikan jika semenjak mempelajari pengetahuan agama, Ricky jadi rajin salat dibanding pertama kalinya mengenal. Ricky punyai karakter yang ramah

“Ia dari kecil Islam walau bapaknya Manado, ibunya Medan. Dia Islam dari kecil. Ia cukup terhitung yang rajin salat. Awalnya tidak, jadi rajin sesudah belajar. Ia orang penggembira, banyak cerita. Ya dasarnya tertawa keunikan anak Medan. Tetapi sepulangnya dari Jepang ia belajar agama, ia berbeda. Lumayan lama 2-3 tahun semacam itu. Sampai Tim nasional di Korea Pak (IGK) Manila minta bantuan saya, tetapi saya tidak sukses,” tutur Nigara.

“Saya telah turut Ricky dari 1980 saat tiba ke Jakarta main Piala Soeratin. Saya baru jadi reporter itu. Bulan April jika tidak salah Piala Soeratin, kami berkawan. Seluruh diinapkan di Ragunan, kantor saya di Kota Jalan Bandeng, saya membawa naik motor ia,” ingat Nigara.

Sesaat Rully Nere, bekas Tim nasional Indonesia sekalian mantan rekanan Ricky malas mengulas ini.

Rully Nere dan Ricky ialah sisi Tim nasional Indonesia di SEA Games 1987

“Saya kurang tahu masalah penggantian nama (Ricky), itu privacy lah,” sebut Rully Nere waktu terlibat perbincangan dengan detikSport lewat jaringan telepon.

Ricky Yacobi wafat ketika bermain sepakbola di Lapangan ABC, Senayan Jakarta, Sabtu (21/11/2020), pagi, WIB. Dia wafat di umur 57 tahun dan disemayamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, secara Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *