Espanyol Degradasi Barcelona Kehilangan Rival di Derbi Barceloni

Posted on

Espanyol Degradasi Barcelona Kehilangan Rival di Derbi Barceloni – Espanyol telah resmi menjadi tim pertama yang terdegradasi dari kompetisi La Liga Spanyol musim ini. Kepastian ini didapat setelah pada pekan ke-35, Kamis (9/7) dini hari WIB, Espanyol kalah tipis 1-0 dari rival sekotanya, Barcelona.

Espanyol Degradasi Barcelona Kehilangan Rival di Derbi Barceloni

Espanyol Degradasi Barcelona Kehilangan Rival di Derbi Barceloni

Ironis memang. Espanyol harus angkat kaki dari La Liga dan akan berkompetisi di Segunda Division musim depan setelah kalah dari rival sekota. Gol tunggal Luis Suarez tak hanya mengantarkan Espanyol turun kasta, namun gol itu juga menjadi gol terakhir “Derbi Barceloni”di La Liga.

Dengan terdegradasinya Espanyol, maka musim depan tak ada “Derbi Barceloni” di kompetisi kasta tertinggi Spanyol. Memang harus diakui, bahwa derby sekota di Barcelona ini memang tak seprestisius atau sepanas derby-derby lain di Spanyol. Derby ini tak mampu menarik atensi sebesar Madrid Derby atau bahkan Basque Derby (Bilbao vs Sociedad).

Satu penyebab utamanya tentu kesenjangan prestasi kedua tim. Barcelona jauh lebih dominan dan superior dibanding Espanyol. Dari catatan pertemuan kedua tim di La Liga saja, Barca unggul jauh dengan 100 kemenangan berbanding 34 kemenangan milik Espanyol dari 172 laga.

Barca juga mengungguli rival sekotanya itu soal catatan gol di derby. Dari 172 laga di La Liga, Barca telah 332 kali membobol gawang Espanyol yang hanya mencetak 178 gol ke gawang Barca. Itu soal jumlah kemenangan dan gol, bagaimana dengan prestasi klubnya?

Ya jelas, Barcelona sangat jauh lebih berprestasi dari Espanyol. Bayangkan, Espanyol hanya punya 5 trofi prestisus (4 Copa del Rey dan 1 Segunda Division) sementara Barcelona punya 94 trofi dari berbagai kompetisi domestik, eropa, dan dunia.

Derby politik yang paling sering dimainkan di La Liga

Tapi kenyataannya, “Derbi Barceloni” merupakan derby sekota yang paling banyak dimainkan dalam sejarah kompetisi La Liga. Belum ada derby sekota yang melebihi jumlah laga derby ini di La Liga. Bahkan derby kota Madrid saja memiliki jumlah laga yang lebih sedikit.

Sejarah rivalitas kedua tim juga sangat panjang. Sebelum resmi ada La Liga, kedua tim sudah berduel di kompetisi sepak bola Catalunya. Kedua tim bahkan menjadi bagian dari 10 tim pencetus kompetisi La Liga pada 1929, sehingga derby sekota ini memang sudah sangat tua usianya.

Karena sudah sangat lama kedua tim memupuk rivalitas, hingga sekarang pun tensi derby ini masih mengakar dengan kuat. Berbeda dengan derby-derby lain yang mempertaruhkan gelar atau penguasa kota, “Derbi Barceloni” lebih dipandang sebagai sebuah rivalitas politik kedua pendukungnya.

Mari kita mundur ke awal kedua tim terbentuk. Barcelona lebih dulu dibentuk pada 1899, sementara Espanyol dibentuk 1 tahun kemudian. Barca merupakan representasi dari pro otonomi Catalunya, sementara Espanyol memang dibentuk secara eksklusif oleh para penggemar sepak bola Spanyol.

Espanyol memang jadi punya modal besar di awal musim kemarin. Namun pemain-pemain yang datang kualitasnya dibawah pemain yang telah mereka jual. Matias Vargas, Fernando Calero, dan Raul de Tomas kualitasnya tak sebaik Mario Hermoso dan Borja Iglesias. Apalagi, di awal musim pelatih mereka, Rubi habis kontrak dan Espanyol harus memulai musim dengan pelatih baru David Gallego.

Gallego hanya menjabat selama 8 pekan saja karena hanya bisa membawa Espanyol memetik 1 kemenangan

Apesnya dan 2 kali imbang dari 8 laga. Espanyol pun menunjuk Pablo Machin sebagai ganti Gallego. Sialnya Machin tak lebih baik, ia dipecat pada 23 Desember lalu setelah hanya membawa Espanyol menang 1 kali dan imbang 2 kali dari 10 laga.

Setelah itu, Abelardo ditunjuk jadi pelatih baru. Hasilnya cukup baik dengan membawa Espanyol menahan Barca di pertandingan pertamanya. Abelardo bertahan hingga 13 pekan La Liga sebelum akhirnya dipecat juga pada 27 Juni lalu setelah hanya mampu membuat Espanyol menang 3 kali, imbang 3 kali dan kalah 5 kali.

Terbaru, Espanyol kini dilatih Fransisco Rufete yang masih sangat minim pengalaman. Hasilnya, anak asuh Rufete kalah 4 kali beruntun dan puncaknya mereka terdegradasi dari La Liga. Mereka baru mengumpulkan 24 poin dari 35 pekan. Sisa 3 pekan, poin maksimal yang bisa mereka dapat sudah tidak akan bisa menyelamatkan tim dari zona degradasi.

Pemain Espanyol tertunduk lesu setelah kalah dari Barca di pekan ke-35 La Liga. Pemain Espanyol tertunduk lesu setelah kalah dari Barca di pekan ke-35 La Liga. | foto: Jaon Monfort/AP via theguardian. Baik Gallego, Machin, Abelardo, hingga Rufete punya kesamaan. Mereka kompak tak mampu mengangkat Espanyol dari zona degradasi sejak pekan pertama. Jika faktanya demikian, maka masalah Espanyol tak sesederhana seperti yang nampak di lapangan.

Mulai dari menjual pemain, gagal mempetahankan Rubi, hingga bergonta-ganti pelatih menjadi drama Espanyol musim ini. Usut punya usut, ternyata rentetan drama tadi terjadi karena Espanyol sedang mengalami krisis finansial. Espanyol memang tak bisa menutupi bahwa pandemi covid-19 sudah memperparah kondisi kurang sehat di keuangan mereka.

Semoga saja mereka bisa kembali ke La Liga segera. Soalnya, Barcelona akan kehilangan rival di “Derbi Barceloni”. Sebagai penonton, untuk sementara ini tak bisa melihat bendera Catalunya dan Spanyol beradu di stadion Camp Nou atau El-Pratt.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *